Bagaimana Menentukan Prioritas?

(Seri Ngaji Bakulan 4)


Oleh : Komandan Gubrak

Salahsatu kesalahan pebisnis dan itu berakibat fatal bagi kelangsungan usahanya ialah, tidak bisa menentukan prioritas pengeluaran. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang menyandarkan ekonominya dari sektor lain. 

Lalu, bagaimana sebaiknya kita memanajemen pengeluaran ?

1. Hak Orang Lain (Hutang)

"Jangan menunda bayar hutang, karena Tuhan akan menunda rezekimu"

Membayar hutang sesuai janji (jadwal) bukan hanya sekedar angka nominal semata. Betapa banyak orang yang terlalu meremehkan hal ini dengan berbagai alasan. Apakah karena memiliki kebutuhan lain ataukah berpandangan bahwa pemberi hutang adalah pihak yang kuat, jadi tak mengapa pembayaran ditunda.

Menunaikan hak orang lain itu soal mental. Salah jika kita menilainya hanya sekedar soal nominal. Membayar janji itu terkait erat dengan kedisiplinan. Orang yang terbiasa disiplin membayar hutang akan dengan sendirinya terlatih disiplin mengerjakan hal lain. Maka, mustahil orang yang terbiasa ingkar janji memiliki mental disiplin dalam pekerjaannya.

Penulis misalnya, setiap kali ada mitra baru (pekerja), yang kami tanyakan pertama kali adalah hutang. Apakah memiliki tanggungan hutang ? Jika iya, maka hutang haruslah menjadi prioritas pertama ketika seseorang memulai bekerja.

Lalu, bagaimana jika beban hutang itu sangat besar dan berpotensi menggerus modal atau pengeluaran pokok ?

Langkah sederhananya adalah kompromi dengan pemberi hutang. Kompromi bukan menunda (catat). Kompromi itu meminta agar pembayaran bisa dilakukan dengan angka lebih ringan meski durasinya lebih lama.

Kenapa penulis menyarankan untuk tidak menunda ?

Seperti paparan di atas, hutang bukan hanya soal nilai, tapi kedisiplinan. Dan itu tidak jauh beda dengan ketika kita melakukan suatu pekerjaan. Pekerjaan yang besar tentu tak bisa dilakukan dalam sekali waktu, ia harus dilakukan berkala, kontinyu dan disiplin. Membayar hutang juga bagian dari seni berbisnis. Maka, lakukanlah dengan hati senang.

Tapi, jika pemberi hutang tak bersedia kompromi meski sudah kita terangkan duduk masalahnya, maka wajib membayar.

2. Memastikan Produk Stabil

Jika kamu memiliki uang lebih, maka prioritas kedua adalah memastikan produk kita mencukupi. Mencukupi itu tidak sekedar terkait barang itu ada (meski sedikit), akan tetapi juga harus terkait dengan angka penjualan. Secara umum, tidak ada penurunan stok barang yang justru memicu naiknya omset penjualan. Sedangkan jumlah barang yang tetap saja seringkali ada penurunan penjualan. Jadi, cermati apakah masih sesuai dengan angka penjualan. Atau kalau perlu, beri target omset lebih tinggi.

3. Kebutuhan Primer

Kebutuhan primer adalah sesuatu yang tak bisa ditunda. Harus dilakukan. Tapi usahakan jangan mengorbankan dua hal sebelumnya. Jika anggaran pas pasan, maka cukupi dengan cara sederhana. Naif, jika kita makan terlalu mewah, sedangkan dua prioritas teratas terbengkalai.

Maka, memberi pengertian pada semua anggota keluarga adalah hal penting. Dan kepemimpinan kita diuji dari aspek ini. Berapa banyak orang yang karirnya berantakan akibat tak bisa mengatur pengeluaran rumah tangga ?

4. Amal Sosial

'Kesuksesanmu tak ada gunanya ketika kamu tak memiliki empati pada sekitarmu'

Kenapa agama memberi porsi 'amal sosial' semisal membayar zakat  dalam kerangka pokok dalam beragama ? Kenapa perusahaan perusahaan sukses semisal Djarum rela merogoh kocek untuk membiayai atlet ? Dan sebagainya.

Nasehat bijak mengatakan, 'sedekah itu menolak bala'. Sedekah itu menghindarkan kita dari marabahaya. Ketidakpekaan kita pada lingkungan sosial satu sisi akan mempertontonkan kesenjangan yang lebih besar. Kesenjangan akan memicu keresahan sosial. Dan itu bisa membahayakan tatanan bermasyarakat. 

5. Kebutuhan Hiburan (tersier)

Penulis tidak perlu menjelaskan soal ini. Sebab, setiap orang memiliki kesenangan masing-masing.

Terakhir, 
Cara kita memanajemen prioritas adalah salahsatu kunci meraih kesuksesan. Jika salah menentukan atau terbalik balik, maka lonceng kehancuran ada di depan mata. Prioritas bukan soal pembagian angka, tapi bagaimana meletakkannya sesuai proporsi masing masing. Yang utama harus lebih diutamakan dari prioritas setelahnya.


Previous
Next Post »